Salah Contreng
Bukan, bukan soal pemilu. Aku aja nggak pernah ikut pemilu. Salah contreng = salah pilih. Mungkin ini hal ter-dodol yang ku lakukan di (awal) tahun 2012. Ya semoga ada hal yang lebih dodol deh supaya si dia nggak ngerasa dodol.
Hari itu aku membuat keputusan yang salah sekali. Sebenarnya aku sudah tau kalo saat itu akan datang, tapi kenapa harus hari itu. Aku nggak yakin Roh Kudus menerangiku sepenuhnya sampe analogi gila itu meluncur begitu saja. Jadilah saat itu aku berpacaran dengan laki-laki yang seperempat hati ku sayangi, yang tidak disukai orangtuaku, dan yang kurang disetujui saudara-saudaraku. Jangan memberondongiku dengan pertanyaan seputar "Terus kenapa kamu terima?" atau "Kasian tau dia!" atau "Nggilani kowe!" karena sampai sekarang aku juga nggak tau jawabannya apa.
Akibat seperempat hati itu, aku tidak menjalaninya dengan tulus. Beberapa teman juga meragukan kesungguhannya berkasih denganku. Ketidaktulusan itu menyiksa batinku karena aku menginginkan orang lain, bukan dia. Maka status di Facebook-ku penuh dengan kalimat-kalimat penyesalan.
Atas petunjuk Penyelamat kita dan menurut ajaran-Nya, maka beranilah saya berkata: (intinya) "Aku nggak bisa ngelanjutin ini." dan jelas reaksinya luar biasa beringas! Waktu menunjukkan pukul 22.00 WIB ditambah aku capek habis mondar-mandir sardjito-kemetiran dan belom belajar buat UAS besokannya, dia ngajak ketemu buat denger langsung keputusan itu. Jelas aku nggak mau. Udah malem gan, belom belajar pula. Setelah negosiasi yang atos, maka setelah liburan ini, what the rain, aku harus ketemu dia jelasin semua keputusanku.
Ini dosa apa nggak aku juga nggak tau. Pas cerita sama masku yang udah jadi diakon, dia ketawa-ketawa aja. Mungkin nggak dosa. Tapi nggak tau deh. Yang aku tau aku udah lega karena nggak bohongin hatiku sendiri.
Kalau aku punya waktu, kadang aku merenungkan hal-hal yang agak-nggak-penting-tapi-lumayan-penting-sih-sebenernya. Hmm yah, aku menyadari kalo kisah c1nT4h-ku lumayan berantakan sejak aku bubaran sama si sastra perancis. Aku nggak sadar gerak-gerik pdkt temen sekelasku (1), aku salah contreng (2), dan aku sering berkhayal tentang 'cowok imajiner' (biasanya sih Ali Fazal :3). Agak sentimentil sih, tapi aku perempuan dan manusia, rindu rasa, rindu rupa #hehehe
Hari itu aku membuat keputusan yang salah sekali. Sebenarnya aku sudah tau kalo saat itu akan datang, tapi kenapa harus hari itu. Aku nggak yakin Roh Kudus menerangiku sepenuhnya sampe analogi gila itu meluncur begitu saja. Jadilah saat itu aku berpacaran dengan laki-laki yang seperempat hati ku sayangi, yang tidak disukai orangtuaku, dan yang kurang disetujui saudara-saudaraku. Jangan memberondongiku dengan pertanyaan seputar "Terus kenapa kamu terima?" atau "Kasian tau dia!" atau "Nggilani kowe!" karena sampai sekarang aku juga nggak tau jawabannya apa.
Akibat seperempat hati itu, aku tidak menjalaninya dengan tulus. Beberapa teman juga meragukan kesungguhannya berkasih denganku. Ketidaktulusan itu menyiksa batinku karena aku menginginkan orang lain, bukan dia. Maka status di Facebook-ku penuh dengan kalimat-kalimat penyesalan.
Atas petunjuk Penyelamat kita dan menurut ajaran-Nya, maka beranilah saya berkata: (intinya) "Aku nggak bisa ngelanjutin ini." dan jelas reaksinya luar biasa beringas! Waktu menunjukkan pukul 22.00 WIB ditambah aku capek habis mondar-mandir sardjito-kemetiran dan belom belajar buat UAS besokannya, dia ngajak ketemu buat denger langsung keputusan itu. Jelas aku nggak mau. Udah malem gan, belom belajar pula. Setelah negosiasi yang atos, maka setelah liburan ini, what the rain, aku harus ketemu dia jelasin semua keputusanku.
Ini dosa apa nggak aku juga nggak tau. Pas cerita sama masku yang udah jadi diakon, dia ketawa-ketawa aja. Mungkin nggak dosa. Tapi nggak tau deh. Yang aku tau aku udah lega karena nggak bohongin hatiku sendiri.
Kalau aku punya waktu, kadang aku merenungkan hal-hal yang agak-nggak-penting-tapi-lumayan-penting-sih-sebenernya. Hmm yah, aku menyadari kalo kisah c1nT4h-ku lumayan berantakan sejak aku bubaran sama si sastra perancis. Aku nggak sadar gerak-gerik pdkt temen sekelasku (1), aku salah contreng (2), dan aku sering berkhayal tentang 'cowok imajiner' (biasanya sih Ali Fazal :3). Agak sentimentil sih, tapi aku perempuan dan manusia, rindu rasa, rindu rupa #hehehe
Comments